ONLINEWS.CO.ID – Pada HUT RI ke-80, bangsa seharusnya merayakan kemerdekaan penuh kemenangan. Namun, kenyataan berbicara lain. Masyarakat masih kesulitan mendapatkan lapangan kerja dan harus menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus melambung, sehingga pertanyaan apakah rakyat benar-benar sudah merdeka semakin relevan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Lapangan Kerja Semakin Sulit Diperoleh
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen. Angka ini memang turun tipis dari 4,82 persen tahun sebelumnya. Namun, jumlah penganggur masih tinggi, yakni 7,28 juta orang.
Khusus di Jakarta, kondisi justru memburuk. Pada Februari 2025, jumlah penganggur naik menjadi 338.390 orang dengan TPT 6,18 persen dari total angkatan kerja.
Fakta lebih pahit terlihat dari latar belakang pendidikan. Lulusan SMK menyumbang angka pengangguran terbesar, mencapai 8 persen. Lulusan SMA menempati posisi kedua dengan tingkat pengangguran 6,35 persen, sedangkan sarjana dan pascasarjana menyusul dengan 6,23 persen.
Artinya, meskipun pengangguran nasional sedikit menurun, jutaan warga, termasuk sarjana, tetap kesulitan mendapat pekerjaan sesuai kualifikasi.
2. Kebutuhan Pokok Makin Mahal, Daya Beli Menurun
Selain lapangan kerja, harga kebutuhan pokok menjad beban berat. BPS melaporkan inflasi tahunan nasional pada Juli 2025 mencapai 2,37 persen, naik dibanding Juni 2025 yang hanya 1,87 persen.
Inflasi pangan bahkan lebih mencolok. Harga makanan naik 3,75 persen pada Juli 2025 dibanding periode sama tahun lalu. Secara keseluruhan, inflasi Juli 2025 mencapai 2,4 persen—tertinggi sejak Juni 2024.
Lonjakan harga beras, minyak goreng, hingga cabai membuat daya beli masyarakat merosot. Warga di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) semakin sulit menjangkau kebutuhan dasar.
3. Apakah Rakyat Benar-Benar Sudah Merdeka?
Pertanyaan besar pun muncul: apa arti kemerdekaan bila jutaan warga tidak mampu mendapatkan pekerjaan layak meski berpendidikan tinggi? Apa makna merdeka bila harga pangan terus menghimpit masyarakat kecil?
Merdeka sejati seharusnya berarti bebas dari kemiskinan, memiliki akses pekerjaan layak, serta mampu memenuhi kebutuhan hidup. Faktanya, ketimpangan distribusi pekerjaan masih tinggi. Pemerintah pun masih mengandalkan program bantuan sosial untuk menopang rakyat yang paling terdampak.
4. Upaya Pemerintah Mengatasi Tantangan
Meski kondisi belum ideal, pemerintah terus berupaya memperbaiki situasi. Presiden Prabowo Subianto pada 15 Agustus 2025 menegaskan bahwa angka pengangguran turun menjadi 4,76 persen, sementara tingkat kemiskinan mencapai 8,47 persen—terendah sepanjang sejarah.
Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program makan bergizi gratis, pelayanan kesehatan, revitalisasi sekolah, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara. Target inflasi juga dipatok stabil di 2,5 persen untuk menjaga daya beli masyarakat.
Selain itu, Rancangan Anggaran 2026 mencapai USD 234 miliar dengan fokus pada kedaulatan pangan, energi, dan program makan gratis bagi 83 juta rakyat.
Merdeka yang Masih Perlu Diperjuangkan
Secara statistik, pengangguran menurun dan kemiskinan merosot. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan lapangan kerja layak masih langka dan harga kebutuhan pokok tetap menghimpit.
Merdeka sejati bukan sekadar upacara dan simbol proklamasi, melainkan hadirnya kesempatan kerja dan terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat. Selama ketimpangan sosial dan ekonomi masih nyata, pertanyaan “apakah rakyat sudah merdeka?” akan tetap relevan. (red)